Friday, April 26, 2013
Libasan lipas~
Suatu Maghrib yang hening, di masjid KLIA, berada di sana untuk pick up seseorang di LCCT jam 8 malam. Azan berkumandang, dan aku berbuka puasa di satu ceruk masjid. Di semak belukar, ku ternampak 2 ekor lipas bersiar-siar. Sambil makan biskut waf~pang, ku terfikir.
Hebat lipas ni.
Meluasnya makhluk ni di seluruh muka bumi. Pergi lah ke ceruk mana pun, pasti akan ada lipas ni. Baik rumah, hutan, padang, tandas, pejabat etc.
Meski dibenci oleh manusia, dengan megah lipas-lipas ni berterusan meluaskan sayapnya ke serata dunia. Sangat banyak yang sudah terkorban, tetapi ramai lagi yang terus maju mengorak langkah ke hadapan, tanpa menghiraukan cemuhan-cemuhan.
Produktiviti yang sangat tinggi melahirkan pewaris. Lihat sahaja pada telurnya yang kecil, boleh melahirkan 10-40 ekor anak baru.
Kepelbagaian mereka menjangkau benua. Ada American cockroach, German cockroach, Asian cockroach dan lain-lain lagi. Namun semua terus menerus menjalankan tugas masing-masing di bumi. Tugas yang hanya Allah yang tahu sebab musabab kewujudan mereka.
Ada sebab kenapa Allah ciptakan lipas begini. Di mata manusia, memang menjijikkan, menggelikan. Namun begitu, pasti ada sebabnya yang hanya Allah yang tahu. Sekali pandang, rasa geli. Pandang rapat lagi, indah sebenarnya. :)
Friday, September 2, 2011
The Country of Rabbani~
I would like to start with an analogy. Let's say you are from another country, and wishing to be the residence of another country. Voluntarily wishing to be in the country, he is obliged to comply with all the requirements to enter the country i.e. passport, identification card, agreement of behaving well and not to create havoc in the country he wants to reside and live in.
When he is already in the country and becomes the permanent resident, after signing the contract, whether he like it or not, he is adhered by the rules and laws of the country, no matter what kind of laws they are, logic or not. He must accept that he will be arrested if he misbehaves. He will be dispelled out of the country if he outlaws the rules.
From another perspective, if we want to invite people from other countries to live in our lovely and peaceful country, we must show and magnify the greatness of our country and convince them why they should live here. Why would they come and live in our country while corruptions are everywhere, riots happen everyday, people stealing from each other, poverty has become crucial, economical crisis, laws only in the books and libraries, everyone does the bribery, low health consciousness, uncontrollable diseases, so on and so forth.
The same applies for Islam and the so-called Muslims. After pronouncing the syahadah and declaring himself as a Muslim, he is bound to adhere to all rules and regulations set by the country of Rabbani, the country of God. The country says you have to do this and that, you can't do this and that, which affects all the people living in it, they can't cross the boundaries set by the country. Becoming the law abiding resident means to comply with all the laws, and not to take them partially, not to only take what we think suitable for us, and neglect all other laws.
On the other hand, why would we bother to ask others to embrace Islam and live in the country of Rabbani, while most of the Muslims themselves are having trouble to comply with the rules and laws of the country of Rabbani. They would prefer to stay in their own peaceful systematic corruption-free country rather than to be in the country where terrible people lives. They just see it by their own naked eye. We say that our country provides the best system in the world, yet the people are living miserably, not even complying with the so-called best system in the world.
Two lessons that I would like to point out here is, first, when we pronounce the syahadah, we are meant to commit to all the obligations stated by the Quran and the Sunnah. Why would we attend to the worldly declarations, but when it comes to Islam and syahadah, we never cared less. Second, let us all correct ourselves first, and then other muslims surrounding us. It would be hard for non muslims to be attracted to Islam and embrace Islam while the muslims themselves are creating the barrier against the non muslims.
Two ayats that I want you to ponder upon, both from surah al Baqarah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَآمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
O you believers! Submit all of you to God and do not follow Satan’s footsteps. He is indeed your open foe. (2:208)
لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
There shall be no compulsion in religion. The right way is henceforth distinct from error. He who rejects false deities and believes in God has indeed taken hold of a most firm support that never breaks. God hears all and knows all. (2:256)Wallahu'alam.
Thursday, August 11, 2011
Lain Pokok, Lain Bajanya, Lain Racunnya
Alangkah indahnya ayat-ayat Allah, digarap dalam pelbagai bentuk yang mampu menyentuh jiwa, dan sememangnya al Quran itu diturunkan untuk mengetuk jiwa-jiwa yang sedang tidur dan leka dengan dunia, bak kata Syed Qutb.
Satu renungan iman, bagaimana keadaan iman mampu sihat dan sakit, bertambah dan berkurang, segar dan layu dalam meniti arus kehidupan. Seuntai ayat yang sangat menarik untuk ditadabbur, apakah tidak kita melihat Perumpamaan sebuah pokok digunakan dalam merencanakan konsep Islam sebagai kalimah yang baik. Yakni ibarat pokok yang akarnya menjunam dalam ke bumi sementara dahan-dahannya menerjah lelangit bumi.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Tidakkah engkau melihat bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimah yang baik, ibarat sebuah pokok yang baik, yang akarnya kuat mencengkam tanah, sementara dedahan rimbunannya menjulang ke langit (14:24)
Namun di sini, ingin ku tadabburi dari sebuah sudut pandang nan berbeza. Kita lihat iman. Kita lihat pula sebuah pokok kecil. Bagaimana pokok itu ingin terus hidup, begitulah jua iman dalam diri. Di luar sana, terdapat beribu jenis pokok, dan setiap satunya mempunyai fungsi tersendiri, dan memerlukan nutrien-nutrien yang spesifik untuk memastikan mereka terus hidup. Hakikat iman, tiada siapa yang tahu, kecuali Allah.
Arakian, untuk menyentuh iman manusia, tidak semua akan bertambah iman dengan kaedah yang sama. Ada orang akan bertambah iman dengan melihat alam, ada yang dengan membaca ayat-ayat Quran, ada yang dengan mendengar kuliah-kuliah, ada yang dengan melalui perkahwinan, ada yang melalui harta yang banyak, dan sebagainya.
Begitu juga sebaliknya. Boleh jadi perkara-perkara tadi menjadi virus, menjadi racun perosak kepada pokok iman, bergantung kepada jenis pokok masing-masing. Boleh jadi seseorang itu selamat dari fitnah keluarga, namun tidak terlepas dari fitnah wang. Boleh jadi dia bertambah-tambah iman dengan mentadabburi alam, tetapi terus jatuh terkulai apabila jauh dari orang-orang yang sentiasa mengingatkan dia.
Ibarat orang mengantuk disorongkan bantal. Ada orang yang boleh terus tidur tanpa bantal, bahkan sewaktu masih duduk pun. Ada yang perlukan selimut, bantal peluk, tilam yang empuk, keadaan yang gelap dan sunyi untuk mendapat tidur yang lena, namun ada juga yang tidak perlukan apa-apa untuk mendapat tidur yang efektif. Letak sahaja kepala, nah, terus terlelap!
Cepat-cepatlah kita kenal pasti apakah jenis pokok iman kita, supaya tidak mudah goyah bila bencana berlaku, mencengkam kuat pada tanah, bahkan sentiasa bersedia dengan bekalan-bekalan yang menambahkan kembali kekuatan iman.
Saturday, June 18, 2011
Hati......rijal
- semuanya balik kepada hati
- hati yang terisi x kan sanggup bunuh anak sendiri
- hati yang terisi x kan rasa nak buat pun benda2 tu
- hati yang terisi akan sentiasa merasa sedang diperhati
- hati yang terisi akan sentiasa takut akan azab Allah
- namun realiti sekarang ini
- hati mereka kosong
- sebab itu
- al quran diturunkan untuk mengisi hati2 ni
- mengetuk hati2 yang sedang tidur supaya bangun dan sedar
- itu bukan dunia sebenar mereka
- memang alam mimpi itu sentiasa indah
- mungkin ada mimpi ngeri sekali sekala
- tapi itu cuma khayalan
- yang nikmat yang dirasa cuma sebentar
- tidak difikirkan apa kesan jangka masa pendek mahupun panjang
- hati yang hidup sentiasa berfikir tentang orang lain
- diri sendiri diletakkan pailng belakang dalam waiting list
- ibarat seorang khalifah
- secara konsepnya
- dialah yang berkhidmat untuk rakyat, bukan rakyat yang berkhidmat untuk dia
- sehinggakan kadang2 kebajikan sendiri terabai
- lantaran memikirkan tentang orang lain
- bukanlah nak dikata sebagai penyibuk, jaga tepi kain orang
- tapi hendak menjaga kemaslahatan manusia sejagat
- sebab itu dalam alquran
- bahkan hadith
- cara penyampaiannya tidak rigid dan stagnant
- ia sentiasa mengalir lembut
- membelai hati dan jiwa
- untuk membentur hati yang kosong dan keras tadi menjadi lembut dan berisi
- namun
- manusia2 itu seringkali ingkar
- tidak mahu mendengar
- bahkan untuk zaman2 sebegini
- makinlah golongan sebegini semakin jauh
- kadang2 mereka mencari2 sinar
- namun tidak ketemui
- Islam tidak datang secara magis
- ada perantaranya
- ada pelaksananya
- ada rijalnya
- rijal2 itu tidak sampai kepada mereka
- mesej Islam yang sebenar tidak sampai
- yang sampai hanyalah pengetahuan2 umum yang membebankan mereka
- adat semata
- alangkah kasihan
- bila Islam yang sepatutnya menghilangkan beban manusiamanusia anggap sebagai beban kepada mereka
Saturday, May 28, 2011
Shift Your Gear!
Ke mana sahaja kita pergi, walaupun kebanyakan jalan mendatar, namun kadang-kadang, pasti ada jalan berbukit bukau, menuruni curam, jalan berlubang dan sebagainya. Memang tidak dapat dielakkan walau di mana jua ceruk di muka bumi ini.
Seorang pemuda berbasikal petang untuk bersiar-siar. Bermula dengan gear 1, dia mengayuh , membina momentum. Apabila dirasakan laju, dia menaikkan gear kepada gear 2, kemudian 3, 4 dan makin laju. Tiba-tiba dia melalui kawasan berbukit. Kayuhannya makin perlahan kerana dirasakan berat, kemudian diturunkan gear satu demi satu hingga ke gear 1, cukup untuk dia mengayuh menaiki bukit. Kemudian menuruni bukit, satu demi satu gear dinaikkan untuk mencapai halaju maksimum, namun dia ingat, terlalu laju memungkin breknya untuk tidak mampu menghentikan basikalnya apabila perlu lantas padah. Kelihatan bonggol di hadapan, diperlahankan basikal dan dikurangkan satu gear. Jalan tidak rata, perlahan. Lubang-lubang jalan dielak-elak.
Begitulah juga manusia dalam hidupnya sehari-hari. Harus tahu bila waktu terbaik untuk dia menaikkan dan menurunkan gear, dan tidak sentiasa berada pada gear yang sama sepanjang perjalanan.
Mana mungkin seseorang menggunakan gear tinggi menaiki bukit. Mana mungkin dia bermula dengan gear tinggi. Boleh jadi gear tidak pernah diubah, namun tindakan tersebut hanya akan memenatkan dan melambatkan.
Bila mana diri itu sedar itu adalah waktunya, maka bersegeralah bertindak. "Shift Your Gear". Anda akan mampu memecut ke hadapan.
Monday, January 24, 2011
the closer you are, the easier you are to get hurt.. so don't get so close. heh.
- NE: setuju dengan FR, kalaupun yang kami nilaikan sebagai yang partikular ini mahu di-universal-kan, ia masih lagi menuntut penjelasan lebih lanjut daripada penulisnya... Wallahu a'lam=)7 hours ago ·
- Azlan Musyabrini la hakikat hubungan dengan makhluk. no matter what kind of it. when the result of the relationship is not as expected, it goes the other way round. contoh manusia tu mungkin biasa. let's say study. bila pulun punya pulun, bila result x elok, mesti down nak mampuih kan. heh.
so kena la berhubungan dengan Allah, yang x akan sekali2 membuatkan hamba2Nya merasa lemah dan sedih, melainkan hamba tu sendiri mengada2 nak jadi cam tu.
don't get so close with the creations, but get closer and closer with the Creator.about an hour ago · - NE: sounds a little bit sufistic in nature=)
Thursday, November 4, 2010
Manusia umpama ekor cicak
Seketika terduduk menunggu, terlihat kelibat mengkarung. Ternampak pada ekornya sedikit berlainan warnanya berbanding corak badan. Ekor baru barangkali. Terlintas di fikiran, manusia pun lebih kurang serupa keadaannya.
Kenapa manusia dikatakan ibarat ekor cicak? Melihat dari perspektif alam, ekor cicak ini tidaklah banyak pergerakannya ketika bersama badan, namun bergerak beberapa ketika, hanya bila tuan empunya ekor cicak mahukannya bergerak. Mungkin sedikit terikat, tidak boleh bergerak sesuka hati. Namun, ekor itu tetap hidup, bergerak ,dan berfungsi menurut kehendak tuannya. Walaubagaimanapun, ekor cicak tercabut dari badan bila adanya bahaya yang dikesan. Tergedik-gedik, melompat-lompat jadinya setelah terlepas dari badan, seakan-akan tidak mahu berhenti. Namun, itu semua tidak lama. Hanya seketika, lalu ia berhenti bergerak. Kaku. Dikuis, dan dikuis, tiada lagi bernyawa.

Ini satu analogi tentang ekor cicak. Perkaitannya dengan manusia?
1. Manusia umpama ekor cicak kerana manusia itu tidak mampu hidup sendiri, tanpa ada apa-apa yang mengawalnya. Apabila manusia betul-betul berpegang pada satu-satu prinsip, ia akan lebih hidup. Namun prinsip yang mana yang memberi jaminan kehidupan kalau bukan Islam. Ekor cicak mendapat kehidupan bila bersama dengan badan. Manusia juga mendapat kehidupan sebenar bila bersama dengan Islam. Walaupun manusia sedikit terikat dengan peraturan-peraturan, tetapi peraturan-peraturan itulah yang memberikan manusia kehidupan sebenar. Tanpa peraturan tersebut, nescaya manusia leka dan lalai, syok sendiri hingga lupa dunia. Menjadi seperti ekor cicak yang terputus, ligat berdansa, lupa dunia. Tampak ibarat kehidupan begitu lebih indah, tapi itu semua dusta. Seronok hanya sementara, tapi sedetik berlalu, kecundang akhirnya.
2. Manusia umpama ekor cicak kerana mudah gugur dek cubaan2 yang menimpa, walau sekadar cubaan itu sangat kecil, kerana terlalu takut. Jelas, tiada pegangan.
3. Manusia umpama ekor cicak kerana ekor itu tidaklah berguna sangat kepada badannya. Ada fungsinya, tapi bukanlah sesuatu yang utama seperti jantung dan otak. Not the vital parts of the body. Badan tidak perlu sangat kepada ekor, tapi ekor sangat perlu kepada badan. Begitulah juga manusia dan Islam. Islam tidak perlu sangat kepada manusia, tetapi manusia tidak boleh hidup tanpa Islam, tanpa satu pegangan yang menjamin.
4. Manusia ibarat ekor cicak kerana manusia itu akan diganti apabila tidak lagi diperlukan, apabila tidak lagi melaksanakan tuntutan-tuntutan Islam. Firman Allah, “Jika kamu tidak berangkat(menggalas panji Islam), nescaya Allah akan mengazab kamu dengan azab yang pedih, dan Dia akan menggantikan kamu dengan satu bangsa yang lebih baik, dan kamu tidak akan dapat memberi mudharat kepada-Nya”(9:39). Juga firman-Nya, “Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu)”(35:16). Inilah dia manusia yang lemah, tidak mampu untuk berbuat apa-apa kecuali ditinggalkan apabila tidak lagi menanggung tanggungjawab yang diberi.
5. Manusia ibarat seekor cicak kerana gugurnya ekor cicak itu sebagai satu pengorbanan yang diberi untuk menyelamatkan tuannya yang lebih utama. Ekor itu sedar yang mana lebih penting untuk diselamatkan, dirinya atau tuannya. Manusia juga sepatutnya sebegitu. Kadang-kadang, perlu kepada pengorbanan diri untuk menyelamatkan deen Islam yang memberinya kehidupan, juga kepada yang lain. Memberi peluang kepada generasi seterusnya untuk meneruskan perjuangan menyambung perjalanan, menjadi rantaian-rantaian penggalas agama ini. Masakan tidak, agama ini tidak akan dapat tertegak tanpa pengorbanan. Lihatlah kembali kepada sirah, bagaimana Rasulullah S.A.W, para sahabat, para tabi’in, tabi’ tabi’in dan golongan-golongan selepas mereka tidak henti-henti berjuang, dan ramai yang terpaksa berkorban berbagai-bagai benda, apatah lagi nyawa.
Ambillah pengajaran wahai manusia sekalian. Tadabburilah alam sekelilingmu, agar menjadi pedoman kepada kita. “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan (alam) ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka hindarkanlah kami dari azab api neraka”(3:191).
Kenapa manusia dikatakan ibarat ekor cicak? Melihat dari perspektif alam, ekor cicak ini tidaklah banyak pergerakannya ketika bersama badan, namun bergerak beberapa ketika, hanya bila tuan empunya ekor cicak mahukannya bergerak. Mungkin sedikit terikat, tidak boleh bergerak sesuka hati. Namun, ekor itu tetap hidup, bergerak ,dan berfungsi menurut kehendak tuannya. Walaubagaimanapun, ekor cicak tercabut dari badan bila adanya bahaya yang dikesan. Tergedik-gedik, melompat-lompat jadinya setelah terlepas dari badan, seakan-akan tidak mahu berhenti. Namun, itu semua tidak lama. Hanya seketika, lalu ia berhenti bergerak. Kaku. Dikuis, dan dikuis, tiada lagi bernyawa.

Ini satu analogi tentang ekor cicak. Perkaitannya dengan manusia?
1. Manusia umpama ekor cicak kerana manusia itu tidak mampu hidup sendiri, tanpa ada apa-apa yang mengawalnya. Apabila manusia betul-betul berpegang pada satu-satu prinsip, ia akan lebih hidup. Namun prinsip yang mana yang memberi jaminan kehidupan kalau bukan Islam. Ekor cicak mendapat kehidupan bila bersama dengan badan. Manusia juga mendapat kehidupan sebenar bila bersama dengan Islam. Walaupun manusia sedikit terikat dengan peraturan-peraturan, tetapi peraturan-peraturan itulah yang memberikan manusia kehidupan sebenar. Tanpa peraturan tersebut, nescaya manusia leka dan lalai, syok sendiri hingga lupa dunia. Menjadi seperti ekor cicak yang terputus, ligat berdansa, lupa dunia. Tampak ibarat kehidupan begitu lebih indah, tapi itu semua dusta. Seronok hanya sementara, tapi sedetik berlalu, kecundang akhirnya.
2. Manusia umpama ekor cicak kerana mudah gugur dek cubaan2 yang menimpa, walau sekadar cubaan itu sangat kecil, kerana terlalu takut. Jelas, tiada pegangan.
3. Manusia umpama ekor cicak kerana ekor itu tidaklah berguna sangat kepada badannya. Ada fungsinya, tapi bukanlah sesuatu yang utama seperti jantung dan otak. Not the vital parts of the body. Badan tidak perlu sangat kepada ekor, tapi ekor sangat perlu kepada badan. Begitulah juga manusia dan Islam. Islam tidak perlu sangat kepada manusia, tetapi manusia tidak boleh hidup tanpa Islam, tanpa satu pegangan yang menjamin.
4. Manusia ibarat ekor cicak kerana manusia itu akan diganti apabila tidak lagi diperlukan, apabila tidak lagi melaksanakan tuntutan-tuntutan Islam. Firman Allah, “Jika kamu tidak berangkat(menggalas panji Islam), nescaya Allah akan mengazab kamu dengan azab yang pedih, dan Dia akan menggantikan kamu dengan satu bangsa yang lebih baik, dan kamu tidak akan dapat memberi mudharat kepada-Nya”(9:39). Juga firman-Nya, “Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu)”(35:16). Inilah dia manusia yang lemah, tidak mampu untuk berbuat apa-apa kecuali ditinggalkan apabila tidak lagi menanggung tanggungjawab yang diberi.
5. Manusia ibarat seekor cicak kerana gugurnya ekor cicak itu sebagai satu pengorbanan yang diberi untuk menyelamatkan tuannya yang lebih utama. Ekor itu sedar yang mana lebih penting untuk diselamatkan, dirinya atau tuannya. Manusia juga sepatutnya sebegitu. Kadang-kadang, perlu kepada pengorbanan diri untuk menyelamatkan deen Islam yang memberinya kehidupan, juga kepada yang lain. Memberi peluang kepada generasi seterusnya untuk meneruskan perjuangan menyambung perjalanan, menjadi rantaian-rantaian penggalas agama ini. Masakan tidak, agama ini tidak akan dapat tertegak tanpa pengorbanan. Lihatlah kembali kepada sirah, bagaimana Rasulullah S.A.W, para sahabat, para tabi’in, tabi’ tabi’in dan golongan-golongan selepas mereka tidak henti-henti berjuang, dan ramai yang terpaksa berkorban berbagai-bagai benda, apatah lagi nyawa.
Ambillah pengajaran wahai manusia sekalian. Tadabburilah alam sekelilingmu, agar menjadi pedoman kepada kita. “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan (alam) ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka hindarkanlah kami dari azab api neraka”(3:191).
Subscribe to:
Comments (Atom)



p/s: sila spesifikkan sedikit...